Waktu yang Tidak Kembali

Bincang Ramadan #1

Ramadan selalu datang seperti tamu agung yang tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya mengubah seluruh atmosfer rumah. Ritme hidup melambat, suara hati justru menguat. Dan di balik semua itu, ada satu tema besar yang sering luput kita renungkan: nilai waktu.

Para ulama dahulu memandang waktu bukan sekadar jam yang berdetak, melainkan amanah yang mengalir. Dikisahkan seseorang berkata kepada 'Amir bin Abd Qais, “Bicaralah denganku.” Ia menjawab, “Tahanlah matahari.” Sebuah jawaban yang tampak sederhana, tetapi maknanya tajam: waktu terlalu berharga untuk diisi dengan yang tidak perlu.

Ramadan datang untuk melatih kita memahami jawaban itu.

Di bulan ini, Allah tidak mengubah jumlah jam dalam sehari. Tetap dua puluh empat. Tetapi nilai setiap jamnya berubah. Satu malam lebih baik dari seribu bulan. Satu ayat yang dibaca bisa menjadi cahaya. Satu sedekah kecil bisa menjelma pohon di surga. Waktu yang biasa saja tiba-tiba menjadi luar biasa.

Di sinilah perkataan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah terasa begitu relevan:
“Menyia-nyiakan waktu lebih berat daripada kematian. Menyia-nyiakan waktu memutusmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutusmu dari dunia dan penghuninya.”

Kalimat itu seperti cermin. Kita sering takut mati, tetapi jarang takut waktu habis dalam kelalaian. Padahal kematian adalah ketetapan. Sementara pemborosan waktu adalah pilihan.

Ramadan mengajari kita membedakan keduanya.

Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan diri dari hidup tanpa arah. Tarawih bukan sekadar berdiri lama, tetapi melatih kesetiaan pada makna. Tilawah bukan sekadar suara yang bergetar, tetapi percakapan dengan wahyu.

Bulan ini adalah laboratorium kesadaran. Ia memaksa kita merasakan detik-detik dengan lebih jujur. Saat menunggu azan magrib, waktu terasa panjang. Saat duduk dalam doa, waktu terasa lembut. Saat sahur di ujung malam, kita sadar: hidup ini memang singkat, tetapi bisa padat makna.

Ada orang yang hidup lama, tetapi jejaknya tipis. Ada yang hidup singkat, tetapi waktunya berbuah panjang. Amal jariyah, ilmu yang ditulis, anak yang saleh, kebaikan yang diteladani—semua itu adalah cara memperpanjang umur secara maknawi.

Ramadan adalah musim terbaik untuk memulai investasi itu.

Seri pertama “Bincang Ramadan” ini bukan ajakan menjadi manusia yang tegang dan penuh target. Ini ajakan menjadi manusia yang sadar. Sadar bahwa setiap detik bulan ini adalah kesempatan mendekat. Sadar bahwa yang benar-benar hilang bukan harta, bukan jabatan, tetapi waktu yang tak pernah kembali.

Karena pada akhirnya, ketika lembaran itu benar-benar dilipat, kita tidak ditanya berapa lama hidup kita. Kita ditanya bagaimana kita mengisinya.

Ramadan telah datang. Waktu sedang berjalan. Dan kita sedang menulisnya—detik demi detik.

~yahyaibrahim


Komentar

Komentar via Facebook

Paling Sering Dikunjungi

Mati Rasa

Analisis Historis; Korelasi Islam dengan Perjalanan Penegakan Hak Asasi Manusia

Detik yang Tak Akan Kembali

Tulisan Baru