Ini Bukan Perkara Kecil
Ini Bukan Perkara Kecil
Ramadan sering kita bayangkan sebagai bulan amal-amal besar: khatam Al-Qur’an, qiyamul lail, sedekah melimpah, i‘tikaf panjang. Semua itu agung. Tetapi ada satu wilayah yang justru menentukan kualitas Ramadan kita—wilayah yang sering tak terlihat: perkara-perkara kecil.
Banyak orang bersikap longgar pada hal yang dianggap remeh. Meminjam sesuatu lalu menunda mengembalikannya. Datang ketika orang lain sedang makan dengan harapan diajak ikut. Menikmati pembicaraan tentang aib orang yang kita tidak suka. Membiarkan pandangan liar karena merasa itu sekadar kilasan. Memberi jawaban agama tanpa ilmu agar tidak tampak bodoh.
Semua terlihat kecil. Tetapi retakan besar selalu bermula dari celah tipis.
Ramadan adalah bulan penyucian, dan penyucian tidak hanya menyentuh dosa besar. Ia justru menajamkan sensitivitas terhadap yang halus. Lapar dan haus melatih tubuh. Tetapi kesadaran terhadap detail melatih jiwa.
Ada ungkapan dari sebagian ulama salaf: seseorang pernah berkata ia meremehkan satu suapan yang ia ambil tanpa hak, lalu selama empat puluh tahun ia merasakan dampaknya. Empat puluh tahun—karena satu hal yang dianggap sepele. Ini bukan hiperbola moral. Ini gambaran tentang bagaimana dosa membekas dalam batin.
Dalam Ramadan, kita belajar bahwa Allah bukan hanya menilai yang spektakuler. Dia juga melihat gerakan mata, niat tersembunyi, bisikan kecil yang kita anggap tak berarti. Satu percikan api tampak ringan, tetapi bisa membakar satu kampung. Satu sikap meremehkan bisa mengikis wibawa ruhani pelan-pelan.
Paling tidak, kelalaian kecil itu menjatuhkan seseorang dari derajat orang-orang yang dipercaya. Lebih jauh lagi, ia menurunkan martabatnya di hadapan Allah. Seakan ada teguran sunyi: engkau diuji dalam hal sederhana, tetapi tidak menjaganya.
Ramadan datang bukan hanya untuk memperbanyak amal, tetapi untuk memperhalus nurani. Ia mengajak kita menjaga amanah sekecil apa pun. Mengembalikan yang dipinjam. Menundukkan pandangan. Menahan lidah. Mengakui ketidaktahuan. Membersihkan niat.
Seri kedua “Bincang Ramadan” ini mengingatkan kita bahwa kesalehan bukan hanya tentang kuantitas ibadah, tetapi juga integritas detail. Karena sering kali yang menggugurkan bukan dosa besar yang jarang terjadi, melainkan kelalaian kecil yang dibiarkan berulang.
Ramadan sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih jujur—bukan hanya dalam hal besar, tetapi juga dalam hal yang tampak remeh. Dan di situlah kualitas takwa diuji: pada hal-hal kecil yang tidak dilihat manusia, tetapi tidak pernah luput dari pengawasan Allah.
~yahyaibrahim
Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih atas masukan dan pendapat anda, semoga bermanfaat...