Antara Dakwah dan Nafkah

Bincang Ramadan #8
Antara Dakwah dan Nafkah

Ada hal yang sering tidak kita bicarakan dengan jujur: hubungan antara ulama, ilmu, dan harta. Kita mudah berbicara tentang keikhlasan, tentang zuhud, tentang kemuliaan dakwah. Tetapi kita jarang membicarakan sisi yang sangat manusiawi: bagaimana seorang alim memenuhi kebutuhan hidupnya.

Seorang berilmu tetaplah manusia. Ia punya keluarga, kebutuhan harian, tanggung jawab yang tidak bisa dibayar dengan idealisme. Ketika seluruh penghasilannya bergantung pada ceramah, undangan, atau pemberian orang lain, di situlah ujian mulai bekerja. Bukan karena menerima honor itu salah. Para ulama membolehkannya. Tetapi karena ketergantungan itu perlahan bisa memengaruhi kebebasan batin.

Sulit berbicara sepenuhnya merdeka jika kita tahu bahwa keberanian hari ini bisa berarti kehilangan pemasukan esok hari. Hati bisa saja ingin lurus, tetapi ada bisikan kecil yang menimbang: apakah ini akan berdampak pada posisi dan akses yang selama ini menopang kehidupan?

Sejarah memberi kita pelajaran yang jernih. Banyak ulama besar memilih memiliki usaha sendiri. Abdullah ibn Mubarak berdagang dan membiayai aktivitas ilmunya dari hasil usahanya. Ia tidak menjadikan dakwah sebagai sumber nafkah utama. Sufyan al-Tsauri dikenal menjaga jarak dari kekuasaan, dan memiliki kemandirian ekonomi yang membuatnya tidak mudah ditekan.

Sebaliknya, sejarah juga mencatat bagaimana kedekatan ulama dengan penguasa bisa menyeret ilmu ke dalam kepentingan politik. Pada masa Al-Ma'mun, doktrin tentang kemakhlukan Al-Qur’an dijadikan kebijakan negara. Sebagian ulama mengikuti tekanan itu dan memberikan legitimasi teologis demi menjaga posisi dan keselamatan. Di masa lain, dulu dan sekarang, ada pula qadhi dan mufti negara yang fatwanya cenderung sejalan dengan kepentingan penguasa, membenarkan pajak yang memberatkan, atau menguatkan tindakan represif dengan dalil-dalil yang lentur.

Kita juga mengenal figur seperti Ibn Abi Du'ad, yang menjadi pendukung utama kebijakan Mihnah dan menggunakan otoritas keilmuannya untuk memperkuat posisi politik khalifah. Ilmu, dalam konteks seperti itu, berubah menjadi alat legitimasi. Bukan lagi cahaya yang membimbing kekuasaan, tetapi lampu yang dipasang untuk menerangi jalan penguasa.

Tentu sejarah tidak hitam-putih. Ada ulama yang masuk ke lingkar kekuasaan dengan niat memberi pengaruh positif. Ada yang benar-benar menjaga integritasnya meski berada di dekat istana. Tetapi risiko selalu ada: ketika nafkah, posisi, dan pengaruh bergantung pada penguasa, maka kebebasan fatwa perlahan menyempit.

Di sisi lain, ada ulama yang sangat miskin tetapi memiliki kesabaran luar biasa. Ahmad ibn Hanbal menghadapi tekanan Mihnah tanpa menjual prinsipnya. Ia kehilangan kenyamanan, bahkan mengalami siksaan, tetapi ia mempertahankan kemerdekaan keyakinannya. Namun tidak semua orang mampu mencapai derajat kesabaran seperti itu. Tidak semua hati sanggup hidup dalam keterbatasan tanpa tergoda oleh rasa aman yang ditawarkan kedekatan dengan kekuasaan.

Karena itu, jika seseorang merasa kesabarannya belum kokoh, jalan yang lebih aman adalah membangun kemandirian. Seorang alim sebaiknya memiliki usaha, pekerjaan, atau sumber penghasilan selain dari dakwah. Bukan demi menumpuk dunia, tetapi demi menjaga kehormatan ilmu.

Kemandirian ekonomi memberi ruang untuk berkata tidak. Ia memberi jarak dari tekanan. Ia membuat seseorang bisa menyampaikan kebenaran tanpa terlalu banyak menghitung risiko kehilangan akses atau fasilitas. Pikiran menjadi lebih bebas, hati lebih ringan, dan sikap lebih tegas.

Zuhud bukan berarti tidak memiliki apa-apa. Zuhud adalah tidak diperbudak oleh apa yang kita miliki. Kadang justru orang yang tidak punya apa-apa lebih mudah diperbudak oleh kebutuhan. Kemiskinan bisa meninggikan jika disertai sabar yang kuat. Tetapi jika sabar itu lemah, kemiskinan bisa menjadi pintu kompromi.

Maka ada dua jalan keselamatan: sabar yang kokoh atau kemandirian yang cukup. Jika belum mampu yang pertama, bangunlah yang kedua. Ilmu membutuhkan kemerdekaan agar tetap jernih. Dan kemerdekaan sering kali membutuhkan kecukupan.

Komentar

Komentar via Facebook

Paling Sering Dikunjungi

Mati Rasa

Iran: Hegemoni Subversif di Balik Gencatan Senjata yang Terselubung – Sebuah Analisis Geopolitik Terkini

Ngaca Lewat Al-Baqarah: Realita Hidup yang Kadang Nyesek, Tapi Nggak Bisa Dihindari (Al-Baqarah Part 1)

Tulisan Baru