Mengapa yang Dilarang Terasa Lebih Menggoda?
Mengapa yang Dilarang Terasa Lebih Menggoda?
Ramadan adalah bulan larangan yang aneh. Makan dan minum yang halal, tiba-tiba menjadi terlarang pada jam-jam tertentu. Bukan karena ia buruk. Bukan karena ia najis. Hanya karena Allah berkata: tunggu.
Dan tiba-tiba, segelas air yang biasa saja berubah menjadi sangat berharga.
Di sini kita belajar sesuatu tentang jiwa.
Sejak awal sejarah manusia, ketika Adam dilarang mendekati satu pohon di tengah ribuan pohon lain, justru yang satu itu terasa paling menarik. Larangan melahirkan fokus. Pembatasan melahirkan hasrat. Seakan-akan yang dicegah pasti menyimpan rahasia kenikmatan.
Ramadan membuka tabiat itu dengan jujur.
Jika seseorang dibiarkan makan seharian, ia mungkin biasa saja. Tetapi ketika dikatakan, “Jangan makan sampai magrib,” waktu terasa melambat. Haus terasa lebih sadar. Nafsu seperti mengetuk-ngetuk pintu batin, meminta perhatian.
Mengapa demikian?
Karena jiwa tidak suka dibatasi. Ia sudah “terkurung” dalam tubuh, dibatasi oleh ruang dan waktu. Ketika datang lagi batas dalam bentuk perintah, ia gelisah. Ada dorongan liar untuk membuktikan bahwa ia bebas.
Namun justru di situlah pendidikan Ramadan bekerja.
Puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah latihan menerima batas. Ia mendidik jiwa agar tidak selalu mengikuti impuls. Ia membiasakan diri tunduk pada hukum, bukan pada selera.
Menariknya, banyak orang merasa lebih “nikmat” melakukan yang terlarang daripada yang dibolehkan. Yang haram terasa menantang. Yang mubah terasa biasa. Ini bukan karena haram itu indah, tetapi karena jiwa merasakan sensasi melawan. Ada ilusi kebebasan di sana.
Ramadan membongkar ilusi itu.
Ia mengajarkan bahwa kebebasan sejati bukan melakukan semua yang diinginkan, tetapi mampu tidak melakukannya. Kebebasan adalah ketika segelas air ada di depan mata, tangan mampu menahan, dan hati tetap tenang.
Di sinilah tarbiyah Ramadan berlangsung secara sunyi. Setiap hari kita dilatih untuk tidak menjadikan “ingin” sebagai komando tertinggi. Setiap magrib kita belajar bahwa sabar selalu punya ujung. Setiap sahur kita belajar bahwa disiplin adalah bentuk cinta.
Karena hidup ini penuh larangan dan aturan. Tanpa latihan seperti Ramadan, jiwa akan terus mengira bahwa yang terlarang pasti lebih membahagiakan. Padahal sering kali, yang menyelamatkan justru adalah kemampuan untuk berkata: cukup.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam puasa—bukan sekadar menahan lapar, tetapi menaklukkan ilusi bahwa kita harus selalu menuruti apa yang kita inginkan.
Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih atas masukan dan pendapat anda, semoga bermanfaat...