Mati Rasa

Ada hukum yang nyaris tak pernah meleset dalam kehidupan manusia: lingkungan yang rusak melahirkan tubuh yang sakit. Udara yang pengap, debu yang beterbangan, asap dan kotoran yang dibiarkan berlarut-larut, pelan tapi pasti menggerogoti kesehatan. Penyakit tidak datang tiba-tiba; ia merayap, menyusup, lalu menetap. Wajah menjadi pucat, tenaga melemah, dan tubuh kehilangan daya tahan.

Hal yang sama berlaku pada makanan. Gizi yang kurang, asupan yang timpang, atau makanan yang tercemar, tidak hanya melemahkan badan, tetapi merusak fungsi-fungsi dasarnya. Tulang menjadi rapuh, kulit rusak, indera tumpul, dan tubuh tak lagi mampu menjalankan tugasnya dengan wajar. Kesembuhan baru mungkin terjadi ketika asupan diperbaiki, unsur yang hilang dilengkapi, dan racun disingkirkan.

Anehnya, hukum yang begitu mudah diterima dalam kehidupan jasmani sering kali kita abaikan dalam kehidupan rohani dan sosial. Padahal hati dan akal pun memiliki “gizi”. Ia butuh nilai, makna, kejujuran, keadilan, ilmu, dan harapan. Tanpa itu semua, jiwa akan sakit, pikiran akan tumpul, dan masyarakat kehilangan arah.

Jika dipandang dengan jujur, kondisi umat hari ini memang mengundang keprihatinan. Ada kelelahan kolektif, semacam mati rasa yang merambat pelan. Banyak yang masih hidup, tetapi seakan tak sepenuhnya sadar ke mana hendak melangkah. Musuh-musuh, baik yang nyata maupun yang laten, mengerumuni dengan satu niat yang sama: mengambil, menguasai, dan memanfaatkan kelemahan.

Ketika ditelusuri lebih dalam, penyakit umat ini bukan sekadar soal ekonomi atau politik. Ia berakar pada suasana intelektual yang sesak, pada gizi kejiwaan dan moral yang buruk. Bukan hanya kurang unsur penting, tetapi sebagian telah tercemar—bahkan beracun. Nilai agama kehilangan kedalaman, ilmu tercerabut dari adab, dan semangat hidup digantikan oleh rutinitas tanpa makna.

Akibatnya terasa nyata. Daya umat melemah, langkahnya tersandung, dan misinya sebagai pembawa rahmat perlahan memudar. Bahaya pun membesar. Wilayah demi wilayah—baik secara fisik maupun kultural—tergerus. Dulu ancaman datang dari pinggiran, kini ia berdiri di atas kepala. Upaya mengubah identitas, keyakinan, dan orientasi hidup umat berlangsung dengan halus, nyaris tanpa suara.

Namun sejarah tidak sepenuhnya gelap. Selalu ada mereka yang bangkit—para pembaharu, pemikir, dan pejuang nilai—yang mencoba meniupkan kembali ruh kehidupan. Mereka mengingatkan bahwa umat ini tidak diciptakan untuk disembelih, tetapi untuk hidup bermartabat. Sayangnya, banyak dari mereka wafat tanpa sempat melihat hasil jerih payahnya, sehingga perjuangan itu kerap disangka sia-sia.

Padahal tidak. Setiap upaya itu setidaknya menahan laju penyakit, memberi jeda, dan membuka kemungkinan sembuh. Dalam kondisi penyakit yang rumit, tekanan musuh yang kuat, dan kerusakan yang berlapis, satu langkah kecil menuju kesadaran sudah merupakan pencapaian.

Dalam konteks Indonesia, cermin itu menjadi semakin dekat. Sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memikul potensi besar sekaligus kerentanan yang sama. Kita menyaksikan kemajuan material di satu sisi, tetapi juga kebingungan nilai di sisi lain. Agama sering hadir dalam simbol, namun absen dalam etika. Semangat berislam tampak ramai, tetapi kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial justru menipis.

Rakyat bekerja keras, tetapi sering merasa hampa. Pendidikan berjalan, namun belum sepenuhnya membentuk karakter. Media riuh, tetapi miskin hikmah. Kita bernapas dalam udara sosial yang penuh kebisingan, sementara gizi ruhani kian menurun. Tidak heran jika kelelahan kolektif, sinisme, dan apatisme menjalar pelan di tengah masyarakat.

Indonesia—seperti umat Islam secara umum—sedang berada di persimpangan. Entah kita berani memperbaiki “asupan” jiwa dan akal: mengembalikan agama sebagai sumber makna, ilmu sebagai cahaya, dan keadilan sebagai orientasi; atau kita membiarkan penyakit ini berlanjut hingga kegelapan menjadi kebiasaan.

Sejarah selalu memberi dua kemungkinan. Yang satu menuntut keberanian untuk berubah, yang lain hanya membutuhkan kelalaian untuk runtuh. Dan umat—sebagaimana tubuh—tidak mati karena satu luka besar, tetapi karena luka kecil yang dibiarkan terlalu lama.

Komentar

Komentar via Facebook

Paling Sering Dikunjungi

Detik yang Tak Akan Kembali

Ayat yang Paling Ditakuti oleh Ulama

Tulisan Baru