Postingan

Menampilkan postingan dengan label Renungan

Mengapa yang Dilarang Terasa Lebih Menggoda?

Gambar
Bincang Ramadan #7 Mengapa yang Dilarang Terasa Lebih Menggoda? Ramadan adalah bulan larangan yang aneh. Makan dan minum yang halal, tiba-tiba menjadi terlarang pada jam-jam tertentu. Bukan karena ia buruk. Bukan karena ia najis. Hanya karena Allah berkata: tunggu. Dan tiba-tiba, segelas air yang biasa saja berubah menjadi sangat berharga. Di sini kita belajar sesuatu tentang jiwa. Sejak awal sejarah manusia, ketika Adam dilarang mendekati satu pohon di tengah ribuan pohon lain, justru yang satu itu terasa paling menarik. Larangan melahirkan fokus. Pembatasan melahirkan hasrat. Seakan-akan yang dicegah pasti menyimpan rahasia kenikmatan. Ramadan membuka tabiat itu dengan jujur. Jika seseorang dibiarkan makan seharian, ia mungkin biasa saja. Tetapi ketika dikatakan, “Jangan makan sampai magrib,” waktu terasa melambat. Haus terasa lebih sadar. Nafsu seperti mengetuk-ngetuk pintu batin, meminta perhatian. Mengapa demikian? Karena jiwa tidak suka dibatasi. Ia sudah “terkurung” ...

Ketika Syahwat Mendahului Kesadaran

Gambar
Bincang Ramadan #3 Ketika Syahwat Mendahului Kesadaran Ramadan adalah bulan yang sunyi sekaligus jujur. Di dalamnya, manusia dipaksa berhadapan dengan dirinya sendiri. Lapar menyingkap tabiat. Haus membuka rahasia. Dan di sela-sela itu, kita mulai melihat satu kenyataan yang sering kita sembunyikan: banyak dosa tidak lahir dari niat membangkang, tetapi dari keinginan yang dibiarkan berjalan tanpa kendali. Banyak ulama yang mengatakan: kebanyakan pelaku maksiat tidak benar-benar “berniat durhaka”. Mereka hanya ingin mengikuti hawa nafsu. Mereka mengejar rasa, bukan pelanggaran. Tetapi ketika keinginan dibiarkan memimpin, maksiat datang sebagai bayangan yang tak terhindarkan. Di sinilah letak ujian yang halus. Ada orang yang berani melangkah terlalu jauh bukan karena ia meremehkan agama secara terang-terangan, tetapi karena ia terlalu bersandar pada keluasan rahmat Allah. Ia tahu Allah Maha Pengampun—dan itu benar. Tetapi ia lupa menghadirkan keagungan dan kewibawaan-Nya dala...

Komentar via Facebook

Tulisan Baru