Poros Keseimbangan

Bincang Ramadan #5
Poros Keseimbangan

Manusia hidup dalam dunia yang tidak pernah stabil. Harga naik dan turun. Kesehatan datang dan pergi. Hubungan menghangat lalu mendingin. Pujian bisa berubah menjadi celaan. Hidup memang tidak menetap pada satu wajah.

Al-Qur’an telah lama mengingatkan bahwa hari-hari itu dipergilirkan di antara manusia. Tidak ada jaminan bahwa hari ini akan sama dengan esok. Maka pertanyaannya bukan bagaimana menghentikan perubahan—karena itu mustahil—tetapi apa yang harus kita pegang ketika semuanya berubah.

Ramadan menjawabnya dengan satu kata: takwa.

Puasa bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah latihan membangun pusat gravitasi batin. Saat lapar mengguncang tubuh, kita belajar bahwa kenyamanan bukan fondasi hidup. Saat haus mengeringkan tenggorokan, kita belajar bahwa kesenangan bukan penentu arah. Saat malam-malam diisi dengan doa, kita sedang membangun sesuatu yang tidak ikut naik turun bersama keadaan.

Takwa adalah jangkar itu.

Jika suatu hari Allah melapangkan rezeki, takwa akan menghiasinya dengan syukur. Jika suatu hari Allah menyempitkan, takwa akan membukakan pintu sabar. Jika tubuh diberi kesehatan, takwa menjadikannya alat kebaikan. Jika diuji sakit, takwa menjadikannya sarana penghapusan dosa.

Ramadan adalah madrasah kestabilan di tengah pergiliran.

Menariknya, tanpa takwa, nikmat bisa berubah menjadi bencana tersembunyi. Kesenangan bisa membuat lengah. Kelapangan bisa menumbuhkan kesombongan. Sebaliknya, dengan takwa, bahkan kesempitan bisa terasa luas, karena hati tidak lagi bergantung pada situasi, tetapi pada Allah.

Di bulan ini kita belajar bahwa rasa lapar pun ada waktunya berakhir. Azan magrib selalu datang. Malam gelap selalu diganti fajar. Semua bergerak. Semua berubah. Tetapi satu hal yang semestinya tetap tegak yaitu kualitas hubungan kita dengan Allah.

Pergiliran hidup akan terus berjalan, dengan atau tanpa kesiapan kita. Tetapi siapa yang menjadikan Ramadan sebagai musim membangun takwa, ia memiliki sesuatu yang tidak ikut hanyut bersama perubahan.

Dan mungkin di situlah rahasia ketenangan: bukan karena dunia berhenti berputar, tetapi karena hati telah menemukan poros yang tidak ikut berputar.

Komentar

Komentar via Facebook

Paling Sering Dikunjungi

Mati Rasa

Ayat yang Paling Ditakuti oleh Ulama

Apakah Perang Iran-Israel Nyata atau Pura-pura? Membedah Perang Proksi dan Perebutan Pengaruh di Timur Tengah

Tulisan Baru