Pancaran Harapan
Pancaran Harapan
Ramadan mengingatkan kita pada satu kenyataan yang tak bisa ditawar: umur terus berjalan. Setiap azan magrib yang kita dengar adalah satu hari yang tak akan kembali. Setiap sahur adalah pengingat bahwa jatah hidup kita sedang berkurang—atau justru sedang diperkaya, tergantung bagaimana kita mengisinya.
Terasa kadang sebuah kecanggungan ketika kita memohon kepada Allah agar diberi umur panjang. Sekilas, mungkin terdengar seperti permintaan menunda perjumpaan dengan kematian. Tetapi hakikatnya bukan itu. Ia adalah kerinduan untuk bertumbuh sebelum pulang.
Bayangkan jika kita wafat sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Berapa banyak pemahaman yang belum kita miliki? Berapa banyak kesalahan yang belum sempat kita luruskan? Berapa banyak kedekatan kepada Allah yang belum sempat kita rasakan?
Ilmu tidak datang sekaligus. Ia tumbuh pelan, seperti cahaya fajar yang mengusir gelap sedikit demi sedikit. Keyakinan juga tidak lahir dalam semalam. Ia ditempa oleh waktu, diuji oleh pengalaman, dimatangkan oleh renungan.
Ramadan adalah laboratorium pertumbuhan itu.
Setiap ayat yang dibaca bukan sekadar huruf yang diulang, tetapi lapisan pemahaman yang bertambah. Setiap malam yang kita berdiri dalam doa bukan sekadar rutinitas, tetapi proses pendewasaan ruhani. Setiap taubat yang tulus adalah langkah menjauh dari masa lalu yang gelap menuju masa depan yang lebih jernih.
Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa usia seorang mukmin, ketika dipenuhi kebaikan, hanya akan menambah kebaikan baginya. Umur panjang bukan otomatis berkah. Tetapi umur panjang yang disertai taubat dan amal adalah peluang yang diperluas.
Ramadan memberi kita satu pertanyaan: jika Allah masih memberi kita kesempatan melewati bulan ini, untuk apa kesempatan itu kita gunakan?
Untuk sekadar menunggu waktu berbuka?
Atau untuk memperdalam makna hidup?
Setiap tahun yang Allah tambahkan pada usia kita sebenarnya adalah ruang untuk memperluas pengenalan kepada-Nya. Mengenal Allah bukan sekadar tahu nama-nama-Nya, tetapi menyaksikan kebijaksanaan-Nya dalam hidup kita. Menyadari bagaimana Dia membimbing kita keluar dari kebodohan menuju pemahaman, dari kelalaian menuju kesadaran.
Semakin panjang usia yang diisi dengan ilmu dan amal, semakin luas ladang panen di akhirat. Bukan panjangnya umur yang bernilai, tetapi kepadatannya. Ada orang yang hidup lama tetapi kosong. Ada yang hidup lebih singkat tetapi penuh cahaya.
Umur memang terus berkurang secara angka. Tetapi dalam Ramadan, ia bisa terus bertambah dalam nilai.
Dan mungkin, itulah makna sebenarnya dari harapan: bukan ingin hidup lama demi dunia, tetapi ingin hidup cukup lama untuk pulang dalam keadaan lebih mengenal-Nya daripada kemarin.
Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih atas masukan dan pendapat anda, semoga bermanfaat...