Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Ironi Perdebatan Akidah di Tengah Umat

Gambar
Ada sesuatu yang ironis dalam kehidupan keagamaan umat Islam hari ini. Kita bisa menghabiskan berjam-jam, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun untuk memperdebatkan persoalan-persoalan akidah yang sebagian besar bersifat spekulatif dan tidak bersentuhan langsung dengan kebutuhan umat. Kita begitu bersemangat memperdebatkan bagaimana Allah beristiwa di atas Arasy, apakah kedekatan-Nya dengan manusia berkaitan dengan Zat atau sifat-Nya, bagaimana hakikat turunnya Allah ke langit dunia, atau bagaimana memahami hadis tentang penciptaan Adam dalam rupa-Nya. Perdebatan itu seolah-olah menjadi ukuran kedalaman iman dan kemurnian akidah seseorang. Mereka yang berbeda dalam memahami persoalan-persoalan tersebut tidak jarang dipandang menyimpang, bahkan dianggap telah merusak agama. Padahal, jika kita mau sedikit mundur dan melihat persoalan secara lebih jernih, bukankah ada banyak perkara yang jauh lebih mendesak untuk dipikirkan dan diperjuangkan oleh umat Islam? Tentu saja, akidah b...

KETIKA EGO MENJADI TUHAN

Gambar
KETIKA EGO MENJADI TUHAN Kesombongan, Krisis Moral, dan Ilusi Keagungan Diri di Zaman Modern Ada manusia yang tidak kekurangan ilmu, tetapi kehilangan kebijaksanaan. Ada yang fasih berbicara tentang kebenaran, tetapi gemetar ketika kebenaran itu menuntutnya mengakui kesalahan. Ada yang lantang menyerukan keadilan, tetapi mendadak menemukan seribu alasan ketika keadilan harus ditegakkan terhadap dirinya sendiri. Mereka bukan selalu orang yang tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Sebagian justru mengetahuinya dengan sangat baik. Mereka memahami aturan, menguasai dalil, menghafal prinsip-prinsip moral, bahkan mampu mengajarkannya kepada orang lain. Namun, ketika kebenaran berbenturan dengan kepentingan, ketika kejujuran mengancam kedudukan, atau ketika pengakuan atas kesalahan melukai harga diri, semua pengetahuan itu seolah kehilangan suaranya. Mengapa demikian? Sebab, persoalan manusia tidak selalu terletak pada ketidaktahuan. Terkadang, persoalannya ju...

Krisis Narasi Keilmuan Islam Kontemporer: Ketika Ilmu Kehilangan Akhlak

Gambar
Salah satu persoalan mendasar dalam keilmuan Islam kontemporer adalah kecenderungan mengukur kemajuan melalui penguasaan pengetahuan, produktivitas akademik, dan kemampuan berargumentasi, tanpa perhatian yang sebanding terhadap pembentukan akhlak. Akses ilmu semakin luas, publikasi semakin banyak, dan perdebatan keagamaan semakin terbuka. Namun, semua itu tidak otomatis menunjukkan kemajuan umat. Seseorang dapat menguasai khazanah keislaman, fasih mengutip dalil, dan memiliki gelar akademik tinggi, tetapi tetap terjebak dalam kesombongan, kebencian, dan egoisme. Ketika ilmu hanya dinilai dari apa yang diketahui, sementara perubahan yang dihasilkannya terhadap diri manusia diabaikan, keilmuan Islam menghadapi krisis orientasi. Pengetahuan yang tidak disertai pembinaan jiwa bahkan dapat memperbesar kemampuan manusia untuk melakukan kerusakan. Kecerdasan tanpa akhlak dapat digunakan untuk memanipulasi argumentasi, membenarkan kepentingan pribadi, dan menjatuhkan orang lain den...

Problematika Keilmuan Islam Kontemporer: Krisis Integrasi Ilmu, Otoritas Keagamaan, dan Metodologi Kritik

Gambar
Keilmuan Islam kontemporer menghadapi persoalan yang tidak semata-mata berkaitan dengan penguasaan terhadap sumber-sumber agama, tetapi juga menyangkut cara memahami, menguji, dan mengembangkan pengetahuan keislaman. Persoalan mendasarnya terletak pada kemungkinan terjadinya pemisahan antara penguasaan teknis terhadap teks dan kemampuan memahami makna, tujuan, serta implikasinya dalam keseluruhan bangunan ajaran Islam. Penguasaan sanad, misalnya, merupakan kompetensi mendasar dalam ilmu hadis, tetapi pemahaman terhadap kandungan hadis juga memerlukan penguasaan bahasa, Al-Qur'an, usul fikih, sejarah, dan prinsip-prinsip umum syariat. Persoalannya bukan mempertentangkan keahlian teknis dengan pemahaman substantif, melainkan memastikan keduanya bekerja secara terpadu. 1. Fragmentasi Ilmu dan Hilangnya Pandangan yang Menyeluruh Salah satu problematika mendasar keilmuan Islam adalah fragmentasi disiplin ilmu yang berpotensi mengakibatkan hilangnya pandangan menyeluruh terha...

Dakwah di Persimpangan: Antara Idealisme dan Pragmatisme

Gambar
Di tengah geliat dakwah kontemporer, kita sedang menyaksikan satu fenomena penting yang jarang dibicarakan secara jernih: pergeseran orientasi aktivis dakwah antara idealisme dan pragmatisme. Ini bukan sekadar perbedaan gaya atau metode, melainkan menyentuh cara pandang paling mendasar tentang apa itu dakwah dan untuk apa ia dijalankan. Dalam lanskap ini, setidaknya terdapat dua tipe aktivis yang menonjol. Pertama, aktivis ideologis. Mereka menjadikan prinsip sebagai poros utama gerakan. Kebenaran tidak ditentukan oleh popularitas, dan dakwah tidak ditimbang dengan jumlah penonton. Bagi mereka, tugas utama adalah menyampaikan yang haq, meskipun pahit, tidak populer, bahkan berisiko. Mereka tidak sibuk menyesuaikan pesan agar “laku di pasar”, tetapi justru berusaha mengangkat kesadaran umat agar selaras dengan nilai-nilai Islam itu sendiri. Tipe ini biasanya tampak keras, tegas, dan tidak kompromistis. Namun di balik itu, ada satu hal yang menjadi kekuatannya: komitmen. Mere...

Indonesia Kini dalam Kacamata Ibnu Khaldun

Gambar
Pemikiran Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah tentang relasi antara kemakmuran negeri (ʿumrān) dan perkembangan industri (ṣanā’iʿ) memberikan kerangka analisis yang sangat relevan untuk membaca dinamika ekonomi Indonesia hari ini. Dalam pandangannya, industri hanya akan berkembang ketika terdapat kebutuhan yang tinggi serta permintaan yang stabil dalam masyarakat. Sebaliknya, ketika suatu negeri atau peradaban mulai mengalami kemunduran, maka kebutuhan terhadap aspek-aspek sekunder dan tersier menurun, yang pada akhirnya menyebabkan hilangnya berbagai industri tersebut secara bertahap. Jika kerangka ini diproyeksikan ke dalam konteks Indonesia kontemporer, kita menemukan gejala yang secara struktural sejalan dengan analisis Khaldunian tersebut. Gelombang penutupan pabrik, meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), serta melemahnya sektor industri manufaktur menunjukkan adanya gangguan serius pada basis produksi nasional. Industri yang sebelumnya menjadi penopang utama ...

Orientasi Nilai dan Masa Depan Peradaban

Gambar
Peradaban sering kali dipahami sebagai puncak pencapaian manusia dalam bidang material: kemajuan teknologi, pembangunan kota, atau kemegahan infrastruktur. Namun, para pemikir besar mengingatkan bahwa peradaban sejatinya tidak berhenti pada aspek lahiriah semata. Ia adalah proses panjang yang mencerminkan kualitas batin manusia—yakni akhlak dan kesadaran nilai—yang dibentuk melalui pendidikan. Albert Schweitzer, misalnya, menekankan bahwa inti peradaban adalah kemajuan spiritual dan moral manusia.¹ Peradaban bukan sekadar soal “apa yang dimiliki manusia”, tetapi lebih dalam lagi, “siapa manusia itu”. Oleh karena itu, peradaban selalu terkait dengan pandangan hidup (worldview) dan sistem nilai yang dianut suatu masyarakat. Ketika manusia kehilangan makna dan arah hidup, peradaban pun terancam mengalami krisis, betapapun majunya secara teknologi.² Dalam kerangka yang lebih sistematis, Malik bin Nabi menguraikan bahwa peradaban dibangun di atas tiga unsur utama: manusia, tanah...

Benarkah Syiah Dibuat oleh Abdullah bin Saba?

Gambar
Ada sebuah teori yang sangat populer dalam polemik sejarah Islam: bahwa mazhab Syiah didirikan oleh seorang Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba. Teori ini sering diulang dalam ceramah, buku polemik, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Namun jika kita menelusuri sejarah dengan sedikit lebih teliti, teori ini ternyata sangat problematis—baik secara logika sejarah maupun secara sumber. Pertama-tama, kita perlu memahami makna kata syi‘ah pada masa awal Islam. Dalam bahasa Arab, kata itu berarti “kelompok pendukung” atau “faksi”. Dalam literatur sejarah awal, istilah ini sering digunakan secara politik, bukan teologis. Ketika para penulis sejarah menyebut shi‘at Ali, yang dimaksud adalah para pendukung Ali ibn Abi Talib dalam konflik politik pada masa itu. Ia bukan mazhab aqidah seperti yang kita kenal sekarang. Setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw, umat Islam memang menghadapi persoalan besar: siapa yang akan memimpin komunitas yang baru saja berkembang menjadi kekuatan ...

Ridha Kepada Allah

Gambar
Bincang Ramadan #9 Ridha Kepada Allah Ramadan adalah kesempatan bagi kita untuk bertanya kepada diri, "Sudahkah hati kita ridha ketika berdiri di hadapan Allah?"  Ada orang yang beribadah dengan rasa dekat, dengan cinta yang hangat. Ia berdoa dengan keyakinan penuh, dan sering kali doanya dikabulkan dengan cepat, seakan-akan langit memang sedang terbuka khusus untuknya. Itu karunia. Itu indah. Namun ada derajat yang lebih agung yang jarang dibicarakan. Derajat itu adalah ketika seseorang berdoa, lalu tidak melihat jawaban yang ia harapkan, tetapi hatinya tetap tenang. Tidak retak. Tidak menuntut. Tidak merasa dikhianati oleh takdir. Ia tidak menganggap dirinya layak “dibayar” atas puasanya, atas tilawahnya, atas sedekahnya. Ia sadar, ia hanya seorang hamba. Dan hamba tidak pernah menagih kepada Tuannya. Inilah keridhaan itu. Kita tadabburi ini mumpung masih di bulan Ramadan. Kita lapar bukan karena Allah butuh lapar kita. Kita bangun malam bukan karena Allah kuran...

Tragedi Suriah, Tanggung Jawab Siapa?

Gambar
Di tengah perlawanan terhadap musuh2 Islam, narasi bahwa Iran adalah penyebab tragedi Suriah kembali diangkat. Tujuannya agar tidak ada umat Islam yang mendukung Iran. "Biarkan Iran berjuang sendiri, biar keduanya hancur sekalian", kata mereka.  Maka persoalan ini perlu kita bahas pelan2 dengan kepala dingin, bukan dengan emosi, pandangan sempit dan pikiran dangkal. Konflik Suriah bermula tahun 2011. Rakyat turun ke jalan menuntut reformasi. Rezim Bashar al-Assad telah lama memerintah dengan tangan besi. Kezaliman dan korupsi di mana-mana. Rakyat sudah muak!  Masalah utama Suriah dan semua negara Arab, baik Sunni maupun Syiah, adalah kediktatoran, bukan mazhab teologis. Kita lihat betapa banyak tahanan politik di penjara2 Mesir dan Saudi. Sunni. Penjara tidak penuh oleh penjahat tapi penuh oleh pemuda pemudi terbaik bahkan para ulama. Banyak di antara mereka yang dijatuhi hukuman mati dan penjara seumur hidup hanya karena menunjukkan protes kepada pemerintah. ...

Antara Dakwah dan Nafkah

Gambar
Bincang Ramadan #8 Antara Dakwah dan Nafkah Ada hal yang sering tidak kita bicarakan dengan jujur: hubungan antara ulama, ilmu, dan harta. Kita mudah berbicara tentang keikhlasan, tentang zuhud, tentang kemuliaan dakwah. Tetapi kita jarang membicarakan sisi yang sangat manusiawi: bagaimana seorang alim memenuhi kebutuhan hidupnya. Seorang berilmu tetaplah manusia. Ia punya keluarga, kebutuhan harian, tanggung jawab yang tidak bisa dibayar dengan idealisme. Ketika seluruh penghasilannya bergantung pada ceramah, undangan, atau pemberian orang lain, di situlah ujian mulai bekerja. Bukan karena menerima honor itu salah. Para ulama membolehkannya. Tetapi karena ketergantungan itu perlahan bisa memengaruhi kebebasan batin. Sulit berbicara sepenuhnya merdeka jika kita tahu bahwa keberanian hari ini bisa berarti kehilangan pemasukan esok hari. Hati bisa saja ingin lurus, tetapi ada bisikan kecil yang menimbang: apakah ini akan berdampak pada posisi dan akses yang selama ini menopan...

Mengapa yang Dilarang Terasa Lebih Menggoda?

Gambar
Bincang Ramadan #7 Mengapa yang Dilarang Terasa Lebih Menggoda? Ramadan adalah bulan larangan yang aneh. Makan dan minum yang halal, tiba-tiba menjadi terlarang pada jam-jam tertentu. Bukan karena ia buruk. Bukan karena ia najis. Hanya karena Allah berkata: tunggu. Dan tiba-tiba, segelas air yang biasa saja berubah menjadi sangat berharga. Di sini kita belajar sesuatu tentang jiwa. Sejak awal sejarah manusia, ketika Adam dilarang mendekati satu pohon di tengah ribuan pohon lain, justru yang satu itu terasa paling menarik. Larangan melahirkan fokus. Pembatasan melahirkan hasrat. Seakan-akan yang dicegah pasti menyimpan rahasia kenikmatan. Ramadan membuka tabiat itu dengan jujur. Jika seseorang dibiarkan makan seharian, ia mungkin biasa saja. Tetapi ketika dikatakan, “Jangan makan sampai magrib,” waktu terasa melambat. Haus terasa lebih sadar. Nafsu seperti mengetuk-ngetuk pintu batin, meminta perhatian. Mengapa demikian? Karena jiwa tidak suka dibatasi. Ia sudah “terkurung” ...

Komentar via Facebook

Tulisan Baru