Antara Lapar dan Lalai
Antara Lapar dan Lalai
Ramadan datang seperti cahaya yang menyingkap tabir. Ia tidak hanya menahan lapar, tetapi membongkar watak. Di bulan ini, kita dipaksa berhadapan dengan diri sendiri—dengan dorongan, kebiasaan, dan nafsu yang selama ini kita anggap wajar.
Sebagian manusia hidup tanpa benar-benar bertanya: untuk apa aku diciptakan? Hari-hari berlalu dalam rutinitas mengejar keinginan. Jika berhasil, mereka puas. Jika gagal, mereka marah. Ukuran hidup hanya satu: tercapai atau tidaknya hasrat.
Ramadan mengguncang ukuran itu.
Ketika perut kosong, kita belajar bahwa tidak semua yang diinginkan harus dituruti. Ketika haus menekan, kita menyadari bahwa diri ini bukan budak selera. Puasa adalah latihan membongkar ilusi bahwa kebahagiaan identik dengan pemuasan.
Betapa banyak orang yang secara fisik terjaga, tetapi batinnya tertidur. Siang mereka sibuk, malam mereka lelah, namun kesadaran tentang tujuan hidup tak pernah benar-benar bangun. Ramadan ingin membalik keadaan itu: tubuh mungkin lemah, tetapi ruh harus terjaga.
Tanpa takwa, manusia mudah tergelincir menjadi makhluk yang hanya mengikuti dorongan. Rakus dalam mencari, licik dalam transaksi, bangga dalam tampilan, tetapi kosong dalam makna. Yang disesalkan menjelang mati bukan kurangnya amal, melainkan hilangnya kesempatan menikmati dunia.
Di sinilah puasa menjadi pendidikan paling halus dan paling tegas. Ia menunda kenikmatan yang halal agar kita mampu meninggalkan yang haram. Ia menahan yang mubah agar kita kuat menolak yang merusak. Ia membentuk jarak antara keinginan dan keputusan.
Ramadan seakan berbisik: dunia ini bukan tempat menetap. Coba lihat orang-orang yang sudah pergi lebih dulu. Mereka pernah sibuk, pernah tertawa, pernah mengumpulkan, lalu semuanya selesai. Yang berguna nantinya bukan daftar keinginan yang terpenuhi, tetapi kualitas takwa yang dibawa pulang.
Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih atas masukan dan pendapat anda, semoga bermanfaat...