Poros Keseimbangan
Bincang Ramadan #5 Poros Keseimbangan Manusia hidup dalam dunia yang tidak pernah stabil. Harga naik dan turun. Kesehatan datang dan pergi. Hubungan menghangat lalu mendingin. Pujian bisa berubah menjadi celaan. Hidup memang tidak menetap pada satu wajah. Al-Qur’an telah lama mengingatkan bahwa hari-hari itu dipergilirkan di antara manusia. Tidak ada jaminan bahwa hari ini akan sama dengan esok. Maka pertanyaannya bukan bagaimana menghentikan perubahan—karena itu mustahil—tetapi apa yang harus kita pegang ketika semuanya berubah. Ramadan menjawabnya dengan satu kata: takwa. Puasa bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah latihan membangun pusat gravitasi batin. Saat lapar mengguncang tubuh, kita belajar bahwa kenyamanan bukan fondasi hidup. Saat haus mengeringkan tenggorokan, kita belajar bahwa kesenangan bukan penentu arah. Saat malam-malam diisi dengan doa, kita sedang membangun sesuatu yang tidak ikut naik turun bersama keadaan. Takwa adalah jangkar itu. Jika suatu hari Al...