Postingan

Indonesia Kini dalam Kacamata Ibnu Khaldun

Gambar
Pemikiran Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah tentang relasi antara kemakmuran negeri (ʿumrān) dan perkembangan industri (ṣanā’iʿ) memberikan kerangka analisis yang sangat relevan untuk membaca dinamika ekonomi Indonesia hari ini. Dalam pandangannya, industri hanya akan berkembang ketika terdapat kebutuhan yang tinggi serta permintaan yang stabil dalam masyarakat. Sebaliknya, ketika suatu negeri atau peradaban mulai mengalami kemunduran, maka kebutuhan terhadap aspek-aspek sekunder dan tersier menurun, yang pada akhirnya menyebabkan hilangnya berbagai industri tersebut secara bertahap. Jika kerangka ini diproyeksikan ke dalam konteks Indonesia kontemporer, kita menemukan gejala yang secara struktural sejalan dengan analisis Khaldunian tersebut. Gelombang penutupan pabrik, meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), serta melemahnya sektor industri manufaktur menunjukkan adanya gangguan serius pada basis produksi nasional. Industri yang sebelumnya menjadi penopang utama ...

Orientasi Nilai dan Masa Depan Peradaban

Gambar
Peradaban sering kali dipahami sebagai puncak pencapaian manusia dalam bidang material: kemajuan teknologi, pembangunan kota, atau kemegahan infrastruktur. Namun, para pemikir besar mengingatkan bahwa peradaban sejatinya tidak berhenti pada aspek lahiriah semata. Ia adalah proses panjang yang mencerminkan kualitas batin manusia—yakni akhlak dan kesadaran nilai—yang dibentuk melalui pendidikan. Albert Schweitzer, misalnya, menekankan bahwa inti peradaban adalah kemajuan spiritual dan moral manusia.¹ Peradaban bukan sekadar soal “apa yang dimiliki manusia”, tetapi lebih dalam lagi, “siapa manusia itu”. Oleh karena itu, peradaban selalu terkait dengan pandangan hidup (worldview) dan sistem nilai yang dianut suatu masyarakat. Ketika manusia kehilangan makna dan arah hidup, peradaban pun terancam mengalami krisis, betapapun majunya secara teknologi.² Dalam kerangka yang lebih sistematis, Malik bin Nabi menguraikan bahwa peradaban dibangun di atas tiga unsur utama: manusia, tanah...

Benarkah Syiah Dibuat oleh Abdullah bin Saba?

Gambar
Ada sebuah teori yang sangat populer dalam polemik sejarah Islam: bahwa mazhab Syiah didirikan oleh seorang Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba. Teori ini sering diulang dalam ceramah, buku polemik, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Namun jika kita menelusuri sejarah dengan sedikit lebih teliti, teori ini ternyata sangat problematis—baik secara logika sejarah maupun secara sumber. Pertama-tama, kita perlu memahami makna kata syi‘ah pada masa awal Islam. Dalam bahasa Arab, kata itu berarti “kelompok pendukung” atau “faksi”. Dalam literatur sejarah awal, istilah ini sering digunakan secara politik, bukan teologis. Ketika para penulis sejarah menyebut shi‘at Ali, yang dimaksud adalah para pendukung Ali ibn Abi Talib dalam konflik politik pada masa itu. Ia bukan mazhab aqidah seperti yang kita kenal sekarang. Setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw, umat Islam memang menghadapi persoalan besar: siapa yang akan memimpin komunitas yang baru saja berkembang menjadi kekuatan ...

Ridha Kepada Allah

Gambar
Bincang Ramadan #9 Ridha Kepada Allah Ramadan adalah kesempatan bagi kita untuk bertanya kepada diri, "Sudahkah hati kita ridha ketika berdiri di hadapan Allah?"  Ada orang yang beribadah dengan rasa dekat, dengan cinta yang hangat. Ia berdoa dengan keyakinan penuh, dan sering kali doanya dikabulkan dengan cepat, seakan-akan langit memang sedang terbuka khusus untuknya. Itu karunia. Itu indah. Namun ada derajat yang lebih agung yang jarang dibicarakan. Derajat itu adalah ketika seseorang berdoa, lalu tidak melihat jawaban yang ia harapkan, tetapi hatinya tetap tenang. Tidak retak. Tidak menuntut. Tidak merasa dikhianati oleh takdir. Ia tidak menganggap dirinya layak “dibayar” atas puasanya, atas tilawahnya, atas sedekahnya. Ia sadar, ia hanya seorang hamba. Dan hamba tidak pernah menagih kepada Tuannya. Inilah keridhaan itu. Kita tadabburi ini mumpung masih di bulan Ramadan. Kita lapar bukan karena Allah butuh lapar kita. Kita bangun malam bukan karena Allah kuran...

Tragedi Suriah, Tanggung Jawab Siapa?

Gambar
Di tengah perlawanan terhadap musuh2 Islam, narasi bahwa Iran adalah penyebab tragedi Suriah kembali diangkat. Tujuannya agar tidak ada umat Islam yang mendukung Iran. "Biarkan Iran berjuang sendiri, biar keduanya hancur sekalian", kata mereka.  Maka persoalan ini perlu kita bahas pelan2 dengan kepala dingin, bukan dengan emosi, pandangan sempit dan pikiran dangkal. Konflik Suriah bermula tahun 2011. Rakyat turun ke jalan menuntut reformasi. Rezim Bashar al-Assad telah lama memerintah dengan tangan besi. Kezaliman dan korupsi di mana-mana. Rakyat sudah muak!  Masalah utama Suriah dan semua negara Arab, baik Sunni maupun Syiah, adalah kediktatoran, bukan mazhab teologis. Kita lihat betapa banyak tahanan politik di penjara2 Mesir dan Saudi. Sunni. Penjara tidak penuh oleh penjahat tapi penuh oleh pemuda pemudi terbaik bahkan para ulama. Banyak di antara mereka yang dijatuhi hukuman mati dan penjara seumur hidup hanya karena menunjukkan protes kepada pemerintah. ...

Antara Dakwah dan Nafkah

Gambar
Bincang Ramadan #8 Antara Dakwah dan Nafkah Ada hal yang sering tidak kita bicarakan dengan jujur: hubungan antara ulama, ilmu, dan harta. Kita mudah berbicara tentang keikhlasan, tentang zuhud, tentang kemuliaan dakwah. Tetapi kita jarang membicarakan sisi yang sangat manusiawi: bagaimana seorang alim memenuhi kebutuhan hidupnya. Seorang berilmu tetaplah manusia. Ia punya keluarga, kebutuhan harian, tanggung jawab yang tidak bisa dibayar dengan idealisme. Ketika seluruh penghasilannya bergantung pada ceramah, undangan, atau pemberian orang lain, di situlah ujian mulai bekerja. Bukan karena menerima honor itu salah. Para ulama membolehkannya. Tetapi karena ketergantungan itu perlahan bisa memengaruhi kebebasan batin. Sulit berbicara sepenuhnya merdeka jika kita tahu bahwa keberanian hari ini bisa berarti kehilangan pemasukan esok hari. Hati bisa saja ingin lurus, tetapi ada bisikan kecil yang menimbang: apakah ini akan berdampak pada posisi dan akses yang selama ini menopan...

Mengapa yang Dilarang Terasa Lebih Menggoda?

Gambar
Bincang Ramadan #7 Mengapa yang Dilarang Terasa Lebih Menggoda? Ramadan adalah bulan larangan yang aneh. Makan dan minum yang halal, tiba-tiba menjadi terlarang pada jam-jam tertentu. Bukan karena ia buruk. Bukan karena ia najis. Hanya karena Allah berkata: tunggu. Dan tiba-tiba, segelas air yang biasa saja berubah menjadi sangat berharga. Di sini kita belajar sesuatu tentang jiwa. Sejak awal sejarah manusia, ketika Adam dilarang mendekati satu pohon di tengah ribuan pohon lain, justru yang satu itu terasa paling menarik. Larangan melahirkan fokus. Pembatasan melahirkan hasrat. Seakan-akan yang dicegah pasti menyimpan rahasia kenikmatan. Ramadan membuka tabiat itu dengan jujur. Jika seseorang dibiarkan makan seharian, ia mungkin biasa saja. Tetapi ketika dikatakan, “Jangan makan sampai magrib,” waktu terasa melambat. Haus terasa lebih sadar. Nafsu seperti mengetuk-ngetuk pintu batin, meminta perhatian. Mengapa demikian? Karena jiwa tidak suka dibatasi. Ia sudah “terkurung” ...

Komentar via Facebook

Tulisan Baru