Postingan

Mengapa yang Dilarang Terasa Lebih Menggoda?

Gambar
Bincang Ramadan #7 Mengapa yang Dilarang Terasa Lebih Menggoda? Ramadan adalah bulan larangan yang aneh. Makan dan minum yang halal, tiba-tiba menjadi terlarang pada jam-jam tertentu. Bukan karena ia buruk. Bukan karena ia najis. Hanya karena Allah berkata: tunggu. Dan tiba-tiba, segelas air yang biasa saja berubah menjadi sangat berharga. Di sini kita belajar sesuatu tentang jiwa. Sejak awal sejarah manusia, ketika Adam dilarang mendekati satu pohon di tengah ribuan pohon lain, justru yang satu itu terasa paling menarik. Larangan melahirkan fokus. Pembatasan melahirkan hasrat. Seakan-akan yang dicegah pasti menyimpan rahasia kenikmatan. Ramadan membuka tabiat itu dengan jujur. Jika seseorang dibiarkan makan seharian, ia mungkin biasa saja. Tetapi ketika dikatakan, “Jangan makan sampai magrib,” waktu terasa melambat. Haus terasa lebih sadar. Nafsu seperti mengetuk-ngetuk pintu batin, meminta perhatian. Mengapa demikian? Karena jiwa tidak suka dibatasi. Ia sudah “terkurung” ...

Antara Lapar dan Lalai

Gambar
Bincang Ramadan #6 Antara Lapar dan Lalai Ramadan datang seperti cahaya yang menyingkap tabir. Ia tidak hanya menahan lapar, tetapi membongkar watak. Di bulan ini, kita dipaksa berhadapan dengan diri sendiri—dengan dorongan, kebiasaan, dan nafsu yang selama ini kita anggap wajar. Sebagian manusia hidup tanpa benar-benar bertanya: untuk apa aku diciptakan? Hari-hari berlalu dalam rutinitas mengejar keinginan. Jika berhasil, mereka puas. Jika gagal, mereka marah. Ukuran hidup hanya satu: tercapai atau tidaknya hasrat. Ramadan mengguncang ukuran itu. Ketika perut kosong, kita belajar bahwa tidak semua yang diinginkan harus dituruti. Ketika haus menekan, kita menyadari bahwa diri ini bukan budak selera. Puasa adalah latihan membongkar ilusi bahwa kebahagiaan identik dengan pemuasan. Betapa banyak orang yang secara fisik terjaga, tetapi batinnya tertidur. Siang mereka sibuk, malam mereka lelah, namun kesadaran tentang tujuan hidup tak pernah benar-benar bangun. Ramadan ingin mem...

Poros Keseimbangan

Gambar
Bincang Ramadan #5 Poros Keseimbangan Manusia hidup dalam dunia yang tidak pernah stabil. Harga naik dan turun. Kesehatan datang dan pergi. Hubungan menghangat lalu mendingin. Pujian bisa berubah menjadi celaan. Hidup memang tidak menetap pada satu wajah. Al-Qur’an telah lama mengingatkan bahwa hari-hari itu dipergilirkan di antara manusia. Tidak ada jaminan bahwa hari ini akan sama dengan esok. Maka pertanyaannya bukan bagaimana menghentikan perubahan—karena itu mustahil—tetapi apa yang harus kita pegang ketika semuanya berubah. Ramadan menjawabnya dengan satu kata: takwa. Puasa bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah latihan membangun pusat gravitasi batin. Saat lapar mengguncang tubuh, kita belajar bahwa kenyamanan bukan fondasi hidup. Saat haus mengeringkan tenggorokan, kita belajar bahwa kesenangan bukan penentu arah. Saat malam-malam diisi dengan doa, kita sedang membangun sesuatu yang tidak ikut naik turun bersama keadaan. Takwa adalah jangkar itu. Jika suatu hari Al...

Pancaran Harapan

Gambar
Bincang Ramadan #4 Pancaran Harapan Ramadan mengingatkan kita pada satu kenyataan yang tak bisa ditawar: umur terus berjalan. Setiap azan magrib yang kita dengar adalah satu hari yang tak akan kembali. Setiap sahur adalah pengingat bahwa jatah hidup kita sedang berkurang—atau justru sedang diperkaya, tergantung bagaimana kita mengisinya. Terasa kadang sebuah kecanggungan ketika kita memohon kepada Allah agar diberi umur panjang. Sekilas, mungkin terdengar seperti permintaan menunda perjumpaan dengan kematian. Tetapi hakikatnya bukan itu. Ia adalah kerinduan untuk bertumbuh sebelum pulang. Bayangkan jika kita wafat sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Berapa banyak pemahaman yang belum kita miliki? Berapa banyak kesalahan yang belum sempat kita luruskan? Berapa banyak kedekatan kepada Allah yang belum sempat kita rasakan? Ilmu tidak datang sekaligus. Ia tumbuh pelan, seperti cahaya fajar yang mengusir gelap sedikit demi sedikit. Keyakinan juga tidak lahir dalam semalam. I...

Ketika Syahwat Mendahului Kesadaran

Gambar
Bincang Ramadan #3 Ketika Syahwat Mendahului Kesadaran Ramadan adalah bulan yang sunyi sekaligus jujur. Di dalamnya, manusia dipaksa berhadapan dengan dirinya sendiri. Lapar menyingkap tabiat. Haus membuka rahasia. Dan di sela-sela itu, kita mulai melihat satu kenyataan yang sering kita sembunyikan: banyak dosa tidak lahir dari niat membangkang, tetapi dari keinginan yang dibiarkan berjalan tanpa kendali. Banyak ulama yang mengatakan: kebanyakan pelaku maksiat tidak benar-benar “berniat durhaka”. Mereka hanya ingin mengikuti hawa nafsu. Mereka mengejar rasa, bukan pelanggaran. Tetapi ketika keinginan dibiarkan memimpin, maksiat datang sebagai bayangan yang tak terhindarkan. Di sinilah letak ujian yang halus. Ada orang yang berani melangkah terlalu jauh bukan karena ia meremehkan agama secara terang-terangan, tetapi karena ia terlalu bersandar pada keluasan rahmat Allah. Ia tahu Allah Maha Pengampun—dan itu benar. Tetapi ia lupa menghadirkan keagungan dan kewibawaan-Nya dala...

Ini Bukan Perkara Kecil

Gambar
Bincang Ramadan #2 Ini Bukan Perkara Kecil Ramadan sering kita bayangkan sebagai bulan amal-amal besar: khatam Al-Qur’an, qiyamul lail, sedekah melimpah, i‘tikaf panjang. Semua itu agung. Tetapi ada satu wilayah yang justru menentukan kualitas Ramadan kita—wilayah yang sering tak terlihat: perkara-perkara kecil. Banyak orang bersikap longgar pada hal yang dianggap remeh. Meminjam sesuatu lalu menunda mengembalikannya. Datang ketika orang lain sedang makan dengan harapan diajak ikut. Menikmati pembicaraan tentang aib orang yang kita tidak suka. Membiarkan pandangan liar karena merasa itu sekadar kilasan. Memberi jawaban agama tanpa ilmu agar tidak tampak bodoh. Semua terlihat kecil. Tetapi retakan besar selalu bermula dari celah tipis. Ramadan adalah bulan penyucian, dan penyucian tidak hanya menyentuh dosa besar. Ia justru menajamkan sensitivitas terhadap yang halus. Lapar dan haus melatih tubuh. Tetapi kesadaran terhadap detail melatih jiwa. Ada ungkapan dari sebagian ulam...

Otoritas Agama: Antara Sentralisasi dan Pluralisasi

Gambar
Ada satu kalimat yang sering terdengar setiap kali perbedaan awal Ramadan muncul atau ketika fatwa-fatwa diperdebatkan: “Seharusnya kita seperti negara-negara Arab—patuh saja pada pemerintah sebagai otoritas keagamaan tertinggi, taat pada ulil amri.” Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan terasa religius. Ia memanggil satu konsep Qur’ani yang kuat: ketaatan kepada ulil amri. Namun di balik kesederhanaannya, tersembunyi pertanyaan besar yang jauh lebih kompleks: apakah keseragaman adalah satu-satunya jalan menuju persatuan? Dan apakah otoritas agama memang idealnya dipusatkan pada negara? Di beberapa negara seperti Mesir, keputusan keagamaan publik—termasuk awal Ramadan— relatif terpusat melalui lembaga resmi seperti Al-Azhar dan Dar el-Ifta'. Bahkan di Arab Saudi negara mengadopsi mazhab resmi (Hanbali dalam versi tertentu) dan otoritas keagamaannya sangat terpusat. Penetapan awal Ramadan, fatwa publik, kurikulum agama—semuanya relatif dikendalikan negara. Sementara di...

Komentar via Facebook

Tulisan Baru