Postingan

Ridha Kepada Allah

Gambar
Bincang Ramadan #9 Ridha Kepada Allah Ramadan adalah kesempatan bagi kita untuk bertanya kepada diri, "Sudahkah hati kita ridha ketika berdiri di hadapan Allah?"  Ada orang yang beribadah dengan rasa dekat, dengan cinta yang hangat. Ia berdoa dengan keyakinan penuh, dan sering kali doanya dikabulkan dengan cepat, seakan-akan langit memang sedang terbuka khusus untuknya. Itu karunia. Itu indah. Namun ada derajat yang lebih agung yang jarang dibicarakan. Derajat itu adalah ketika seseorang berdoa, lalu tidak melihat jawaban yang ia harapkan, tetapi hatinya tetap tenang. Tidak retak. Tidak menuntut. Tidak merasa dikhianati oleh takdir. Ia tidak menganggap dirinya layak “dibayar” atas puasanya, atas tilawahnya, atas sedekahnya. Ia sadar, ia hanya seorang hamba. Dan hamba tidak pernah menagih kepada Tuannya. Inilah keridhaan itu. Kita tadabburi ini mumpung masih di bulan Ramadan. Kita lapar bukan karena Allah butuh lapar kita. Kita bangun malam bukan karena Allah kuran...

Tragedi Suriah, Tanggung Jawab Siapa?

Gambar
Di tengah perlawanan terhadap musuh2 Islam, narasi bahwa Iran adalah penyebab tragedi Suriah kembali diangkat. Tujuannya agar tidak ada umat Islam yang mendukung Iran. "Biarkan Iran berjuang sendiri, biar keduanya hancur sekalian", kata mereka.  Maka persoalan ini perlu kita bahas pelan2 dengan kepala dingin, bukan dengan emosi, pandangan sempit dan pikiran dangkal. Konflik Suriah bermula tahun 2011. Rakyat turun ke jalan menuntut reformasi. Rezim Bashar al-Assad telah lama memerintah dengan tangan besi. Kezaliman dan korupsi di mana-mana. Rakyat sudah muak!  Masalah utama Suriah dan semua negara Arab, baik Sunni maupun Syiah, adalah kediktatoran, bukan mazhab teologis. Kita lihat betapa banyak tahanan politik di penjara2 Mesir dan Saudi. Sunni. Penjara tidak penuh oleh penjahat tapi penuh oleh pemuda pemudi terbaik bahkan para ulama. Banyak di antara mereka yang dijatuhi hukuman mati dan penjara seumur hidup hanya karena menunjukkan protes kepada pemerintah. ...

Antara Dakwah dan Nafkah

Gambar
Bincang Ramadan #8 Antara Dakwah dan Nafkah Ada hal yang sering tidak kita bicarakan dengan jujur: hubungan antara ulama, ilmu, dan harta. Kita mudah berbicara tentang keikhlasan, tentang zuhud, tentang kemuliaan dakwah. Tetapi kita jarang membicarakan sisi yang sangat manusiawi: bagaimana seorang alim memenuhi kebutuhan hidupnya. Seorang berilmu tetaplah manusia. Ia punya keluarga, kebutuhan harian, tanggung jawab yang tidak bisa dibayar dengan idealisme. Ketika seluruh penghasilannya bergantung pada ceramah, undangan, atau pemberian orang lain, di situlah ujian mulai bekerja. Bukan karena menerima honor itu salah. Para ulama membolehkannya. Tetapi karena ketergantungan itu perlahan bisa memengaruhi kebebasan batin. Sulit berbicara sepenuhnya merdeka jika kita tahu bahwa keberanian hari ini bisa berarti kehilangan pemasukan esok hari. Hati bisa saja ingin lurus, tetapi ada bisikan kecil yang menimbang: apakah ini akan berdampak pada posisi dan akses yang selama ini menopan...

Mengapa yang Dilarang Terasa Lebih Menggoda?

Gambar
Bincang Ramadan #7 Mengapa yang Dilarang Terasa Lebih Menggoda? Ramadan adalah bulan larangan yang aneh. Makan dan minum yang halal, tiba-tiba menjadi terlarang pada jam-jam tertentu. Bukan karena ia buruk. Bukan karena ia najis. Hanya karena Allah berkata: tunggu. Dan tiba-tiba, segelas air yang biasa saja berubah menjadi sangat berharga. Di sini kita belajar sesuatu tentang jiwa. Sejak awal sejarah manusia, ketika Adam dilarang mendekati satu pohon di tengah ribuan pohon lain, justru yang satu itu terasa paling menarik. Larangan melahirkan fokus. Pembatasan melahirkan hasrat. Seakan-akan yang dicegah pasti menyimpan rahasia kenikmatan. Ramadan membuka tabiat itu dengan jujur. Jika seseorang dibiarkan makan seharian, ia mungkin biasa saja. Tetapi ketika dikatakan, “Jangan makan sampai magrib,” waktu terasa melambat. Haus terasa lebih sadar. Nafsu seperti mengetuk-ngetuk pintu batin, meminta perhatian. Mengapa demikian? Karena jiwa tidak suka dibatasi. Ia sudah “terkurung” ...

Antara Lapar dan Lalai

Gambar
Bincang Ramadan #6 Antara Lapar dan Lalai Ramadan datang seperti cahaya yang menyingkap tabir. Ia tidak hanya menahan lapar, tetapi membongkar watak. Di bulan ini, kita dipaksa berhadapan dengan diri sendiri—dengan dorongan, kebiasaan, dan nafsu yang selama ini kita anggap wajar. Sebagian manusia hidup tanpa benar-benar bertanya: untuk apa aku diciptakan? Hari-hari berlalu dalam rutinitas mengejar keinginan. Jika berhasil, mereka puas. Jika gagal, mereka marah. Ukuran hidup hanya satu: tercapai atau tidaknya hasrat. Ramadan mengguncang ukuran itu. Ketika perut kosong, kita belajar bahwa tidak semua yang diinginkan harus dituruti. Ketika haus menekan, kita menyadari bahwa diri ini bukan budak selera. Puasa adalah latihan membongkar ilusi bahwa kebahagiaan identik dengan pemuasan. Betapa banyak orang yang secara fisik terjaga, tetapi batinnya tertidur. Siang mereka sibuk, malam mereka lelah, namun kesadaran tentang tujuan hidup tak pernah benar-benar bangun. Ramadan ingin mem...

Poros Keseimbangan

Gambar
Bincang Ramadan #5 Poros Keseimbangan Manusia hidup dalam dunia yang tidak pernah stabil. Harga naik dan turun. Kesehatan datang dan pergi. Hubungan menghangat lalu mendingin. Pujian bisa berubah menjadi celaan. Hidup memang tidak menetap pada satu wajah. Al-Qur’an telah lama mengingatkan bahwa hari-hari itu dipergilirkan di antara manusia. Tidak ada jaminan bahwa hari ini akan sama dengan esok. Maka pertanyaannya bukan bagaimana menghentikan perubahan—karena itu mustahil—tetapi apa yang harus kita pegang ketika semuanya berubah. Ramadan menjawabnya dengan satu kata: takwa. Puasa bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah latihan membangun pusat gravitasi batin. Saat lapar mengguncang tubuh, kita belajar bahwa kenyamanan bukan fondasi hidup. Saat haus mengeringkan tenggorokan, kita belajar bahwa kesenangan bukan penentu arah. Saat malam-malam diisi dengan doa, kita sedang membangun sesuatu yang tidak ikut naik turun bersama keadaan. Takwa adalah jangkar itu. Jika suatu hari Al...

Pancaran Harapan

Gambar
Bincang Ramadan #4 Pancaran Harapan Ramadan mengingatkan kita pada satu kenyataan yang tak bisa ditawar: umur terus berjalan. Setiap azan magrib yang kita dengar adalah satu hari yang tak akan kembali. Setiap sahur adalah pengingat bahwa jatah hidup kita sedang berkurang—atau justru sedang diperkaya, tergantung bagaimana kita mengisinya. Terasa kadang sebuah kecanggungan ketika kita memohon kepada Allah agar diberi umur panjang. Sekilas, mungkin terdengar seperti permintaan menunda perjumpaan dengan kematian. Tetapi hakikatnya bukan itu. Ia adalah kerinduan untuk bertumbuh sebelum pulang. Bayangkan jika kita wafat sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Berapa banyak pemahaman yang belum kita miliki? Berapa banyak kesalahan yang belum sempat kita luruskan? Berapa banyak kedekatan kepada Allah yang belum sempat kita rasakan? Ilmu tidak datang sekaligus. Ia tumbuh pelan, seperti cahaya fajar yang mengusir gelap sedikit demi sedikit. Keyakinan juga tidak lahir dalam semalam. I...

Komentar via Facebook

Tulisan Baru