Satu Ayat Satu Peradaban
Berangkat dari satu ayat yang sering kita ucapkan tanpa banyak jeda berpikir— iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn—Al-Fātiḥah sesungguhnya sedang meletakkan sebuah fondasi peradaban. Ayat ini bukan sekadar kalimat doa, melainkan deklarasi hukum dan politik yang amat radikal: hanya kepada Allah manusia tunduk secara mutlak, dan hanya kepada-Nya manusia menggantungkan harapan secara absolut. Di sinilah tauhid berhenti menjadi konsep langit, lalu turun sebagai etika bumi. Kalimat itu membelah jalan kehidupan manusia dengan tegas. Ia menjadi titik pemisah antara kemerdekaan dan perbudakan. Kemerdekaan yang lahir dari tauhid adalah kemerdekaan dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah—baik berupa manusia, kekuasaan, ideologi, sistem hukum, maupun struktur sosial yang menuntut loyalitas tanpa batas. Sebaliknya, ketika ketaatan mutlak dialihkan dari Tuhan kepada makhluk, di sanalah perbudakan dimulai, meskipun ia dibungkus dengan istilah konstitusi, demokrasi, stabilitas nas...