Postingan

Satu Ayat Satu Peradaban

Gambar
Berangkat dari satu ayat yang sering kita ucapkan tanpa banyak jeda berpikir— iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn—Al-Fātiḥah sesungguhnya sedang meletakkan sebuah fondasi peradaban. Ayat ini bukan sekadar kalimat doa, melainkan deklarasi hukum dan politik yang amat radikal: hanya kepada Allah manusia tunduk secara mutlak, dan hanya kepada-Nya manusia menggantungkan harapan secara absolut. Di sinilah tauhid berhenti menjadi konsep langit, lalu turun sebagai etika bumi. Kalimat itu membelah jalan kehidupan manusia dengan tegas. Ia menjadi titik pemisah antara kemerdekaan dan perbudakan. Kemerdekaan yang lahir dari tauhid adalah kemerdekaan dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah—baik berupa manusia, kekuasaan, ideologi, sistem hukum, maupun struktur sosial yang menuntut loyalitas tanpa batas. Sebaliknya, ketika ketaatan mutlak dialihkan dari Tuhan kepada makhluk, di sanalah perbudakan dimulai, meskipun ia dibungkus dengan istilah konstitusi, demokrasi, stabilitas nas...

Mati Rasa

Gambar
Ada hukum yang nyaris tak pernah meleset dalam kehidupan manusia: lingkungan yang rusak melahirkan tubuh yang sakit. Udara yang pengap, debu yang beterbangan, asap dan kotoran yang dibiarkan berlarut-larut, pelan tapi pasti menggerogoti kesehatan. Penyakit tidak datang tiba-tiba; ia merayap, menyusup, lalu menetap. Wajah menjadi pucat, tenaga melemah, dan tubuh kehilangan daya tahan. Hal yang sama berlaku pada makanan. Gizi yang kurang, asupan yang timpang, atau makanan yang tercemar, tidak hanya melemahkan badan, tetapi merusak fungsi-fungsi dasarnya. Tulang menjadi rapuh, kulit rusak, indera tumpul, dan tubuh tak lagi mampu menjalankan tugasnya dengan wajar. Kesembuhan baru mungkin terjadi ketika asupan diperbaiki, unsur yang hilang dilengkapi, dan racun disingkirkan. Anehnya, hukum yang begitu mudah diterima dalam kehidupan jasmani sering kali kita abaikan dalam kehidupan rohani dan sosial. Padahal hati dan akal pun memiliki “gizi”. Ia butuh nilai, makna, kejujuran, kead...

Spirit Ekonomi dalam Bahasa Al-Qur'an

Gambar
Menarik ketika kita bertadabbur Al-Qur’an, tampak bahwa perdagangan menempati posisi penting dalam kehidupan manusia. Manusia, pada hakikatnya, sedang berdagang dengan Allah—menukar amal dengan ganjaran, menimbang niat dan perbuatan di “pasar” dunia untuk memperoleh keuntungan di akhirat. Ada yang beruntung karena dagangannya diterima, dan ada pula yang merugi karena menukar kebenaran dengan kesia-siaan. Nabi ﷺ bahkan menyebut bahwa salah satu penghasilan terbaik adalah bay‘ mabrūr—perniagaan yang jujur dan diberkahi. Kenyataan bahwa Al-Qur’an pertama kali diamanatkan kepada masyarakat yang hidup dari perdagangan tampak jelas dalam bahasa dan gagasan kitab suci itu sendiri. Mekah, kota kelahiran Islam, adalah simpul ekonomi antara Syam dan Yaman, dan bangsa Quraisy dikenal sebagai pengelola kafilah besar yang membawa barang dagangan lintas negeri. Dalam Surah Quraisy (106:2), Allah mengingatkan nikmat perjalanan musim dingin dan musim panas—simbol kemakmuran dan dinamika so...

Membongkar Narasi Sesat yang Menyasar Perlawanan Palestina

Gambar
Di tengah kehancuran Gaza yang porak-poranda oleh genosida Zionis, sebagian orang justru melancarkan tuduhan kejam terhadap mereka yang berdiri di garis depan perlawanan: Hamas disebut teroris, perampas bantuan, bahkan musuh umat. Anehnya, tuduhan ini justru datang dari sesama Muslim—bahkan mengaku "bertauhid" dan "bermanhaj salaf." Apakah benar Hamas adalah organisasi teroris? Apakah benar mereka merampas bantuan kemanusiaan? Ataukah ini bagian dari proyek membungkam perlawanan atas nama "ketaatan pada waliyyul amr"? Mari kita bedah tuduhan ini secara jujur, faktual, dan bermartabat. 🧨 1. Tuduhan Teroris: Narasi Siapa yang Kalian Sebarkan? Tuduhan bahwa Hamas adalah "teroris" berasal dari AS, Israel, dan sekutu mereka. Ini narasi khas penjajah: setiap yang melawan dianggap ancaman. 🔹 Faktanya: Hamas adalah gerakan perlawanan Palestina (Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah) yang lahir dari rahim penderitaan akibat penjajahan. Mereka me...

Kebugaran Ulama di Era Digital: Muruah, Adat, dan Pergeseran Perspektif

Gambar
  Di tengah keriuhan media sosial, citra seorang ulama tak lagi hanya terbatas pada mimbar atau layar kaca. Kini, dengan mudahnya akses informasi, setiap gerak-gerik, termasuk penampilan fisik, menjadi sorotan publik. Fenomena ini memunculkan perdebatan menarik seputar muruah (kehormatan diri), kebugaran jasmani, dan bagaimana adat istiadat acapkali bersitegang dengan syariat Islam dalam penilaian masyarakat. Kasus Ustadz Riza Muhammad yang kerap menjadi perbincangan karena menampilkan fisiknya yang bugar, dan kini semakin diperkuat dengan unggahan serta foto terbaru Ustadz Salim A. Fillah yang menunjukkan komitmennya pada olahraga, menjadi panggung sempurna untuk menelaah kompleksitas ini. Kebugaran: Amanah dan Kekuatan untuk Berkhidmah Islam, sebagai agama yang sempurna, secara fundamental mendorong umatnya untuk menjaga kesehatan dan kekuatan fisik. Sabda Nabi Muhammad SAW, "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah," (HR. Muslim)...

Setelah Rapat Evaluasi Dosen: Menyusun RPS sebagai Ibadah Ilmu

Gambar
  Foto setelah selesai rapat evaluasi dosen—membahas sejauh mana kita membimbing mahasantri bukan hanya menjadi tahu, tapi menjadi utuh.  Setelah rapat saya langsung menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS) untuk mata kuliah Tafsir Ayat Ahkam (1). Rasanya bukan sekadar tugas akademik, tapi bagian dari ikhtiar membangun jalan tadabbur menuju kesadaran Qur’ani yang terukur. Materinya kami susun tidak hanya legal-formal, tapi juga spiritual-reflektif. Di antaranya: 1️⃣ Pendahuluan Tafsir Ayat Ahkam – mengenalkan arah dan etika menafsirkan teks hukum dalam Al-Qur’an. 2️⃣ Tafsir Surat al-Fatihah: Inti Wahyu dan Orientasi Hidup – menggali ayat-ayat pembuka sebagai fondasi pemahaman hukum berbasis rahmah dan petunjuk lurus. 3️⃣ Ayat tentang Kiblat – bukan cuma arah geografis, tapi juga arah hati dan loyalitas batin. 4️⃣ Ayat tentang Halal-Haram Makanan – mendidik etika konsumsi dan tanggung jawab sosial. 5️⃣ Ayat tentang Qishash – membahas keadilan yang mendidik, bukan sekadar me...

Krisis Wibawa Sang Pendidik: Ketika "Bukan Donatur Dilarang Ngatur" Bertemu Ruang Kelas

Gambar
Motto "bukan donatur dilarang ngatur", yang populer di kalangan Generasi Z, awalnya mungkin terdengar sebagai seruan untuk menghargai kontribusi nyata. Namun, ketika nilai ini bersinggungan dengan ranah pendidikan, khususnya hubungan antara siswa, orang tua, dan guru, ia memunculkan ironi dan bahkan tragedi. Fenomena merosotnya penghormatan terhadap guru, yang mencapai puncaknya dalam gelombang kriminalisasi pendidik, menjadi bukti nyata adanya pergeseran nilai dan ekspektasi yang perlu dianalisis secara kritis. Dahulu, guru adalah figur otoritas yang dihormati, sumber ilmu dan panutan moral. Nasihat mereka diterima sebagai kebenaran, dan disiplin yang mereka terapkan dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari proses mendidik. Namun, lanskap sosial kini berbeda. Era keterbukaan informasi dan individualisme telah membawa serta pandangan yang lebih kritis terhadap otoritas, termasuk guru. Generasi Z, dengan semangat kemandirian dan penolakan terhadap dominasi tanpa kontribusi...

Komentar via Facebook

Tulisan Baru