Ketika Syahwat Mendahului Kesadaran
Ketika Syahwat Mendahului Kesadaran
Ramadan adalah bulan yang sunyi sekaligus jujur. Di dalamnya, manusia dipaksa berhadapan dengan dirinya sendiri. Lapar menyingkap tabiat. Haus membuka rahasia. Dan di sela-sela itu, kita mulai melihat satu kenyataan yang sering kita sembunyikan: banyak dosa tidak lahir dari niat membangkang, tetapi dari keinginan yang dibiarkan berjalan tanpa kendali.
Banyak ulama yang mengatakan: kebanyakan pelaku maksiat tidak benar-benar “berniat durhaka”. Mereka hanya ingin mengikuti hawa nafsu. Mereka mengejar rasa, bukan pelanggaran. Tetapi ketika keinginan dibiarkan memimpin, maksiat datang sebagai bayangan yang tak terhindarkan.
Di sinilah letak ujian yang halus.
Ada orang yang berani melangkah terlalu jauh bukan karena ia meremehkan agama secara terang-terangan, tetapi karena ia terlalu bersandar pada keluasan rahmat Allah. Ia tahu Allah Maha Pengampun—dan itu benar. Tetapi ia lupa menghadirkan keagungan dan kewibawaan-Nya dalam hati. Harapan dibesarkan, rasa gentar dikecilkan.
Padahal, hati yang sehat selalu berjalan dengan dua sayap: harap dan takut.
Seandainya manusia benar-benar merenungi kebesaran Allah—yang menggilir hidup dan mati, yang menundukkan makhluk tanpa bisa ditolak—niscaya tangan tidak akan ringan untuk melanggar. Ada jenis rasa takut yang bukan melemahkan, tetapi justru menjaga kejernihan langkah.
Lihatlah tanda-tanda kekuasaan-Nya di sekitar kita: kematian yang merata tanpa pilih kasih, makhluk hidup yang akhirnya sampai ke ujung ajal, anak kecil yang diuji sakit, orang berilmu yang hidup sempit sementara yang kurang ilmu justru lapang. Semua itu mengajarkan satu hal sunyi: kehendak Allah berjalan dengan keperkasaan yang tidak bisa dinegosiasikan.
Karena itu Allah mengingatkan:
وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ
“Allah memperingatkan kamu terhadap (azab)-Nya.”
Ramadan datang untuk menyeimbangkan kembali batin yang miring. Ia bukan hanya musim memperbanyak amal, tetapi musim menertibkan dorongan. Ketika kita mampu menahan lapar yang halal di siang hari, sebenarnya kita sedang dilatih untuk menahan yang haram sepanjang tahun.
Para ulama mengatakan: memperhatikan sebab-sebab yang menumbuhkan rasa takut sering kali lebih mendekatkan pada keselamatan daripada hanya bergantung pada harapan. Orang yang takut akan bersikap waspada. Ia tidak gegabah. Ia tidak merasa kebal. Ia berjalan dengan rem yang berfungsi.
Sebaliknya, orang yang hanya bersandar pada harapan kadang terbuai oleh angan. Ia merasa aman terlalu cepat. Padahal jalan masih panjang.
“Bincang Ramadan” seri ketiga ini adalah undangan untuk duduk sejenak bersama diri sendiri. Mengamati ke mana sebenarnya kecenderungan hati kita. Apakah syahwat sering lebih cepat melangkah daripada kesadaran? Apakah kita terlalu nyaman dengan harapan hingga lupa menghadirkan rasa gentar yang menyehatkan?
Ramadan tidak menuntut kita menjadi malaikat. Ia hanya mengajak kita jujur melihat medan jihad terbesar: ruang sunyi di dalam dada. Di sanalah tarik-menarik itu berlangsung setiap hari.
Dan orang yang benar-benar beruntung di bulan ini bukan yang tidak punya keinginan, tetapi yang belajar menundukkan keinginannya—pelan, sadar, dan istiqamah—di bawah cahaya takwa.
Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih atas masukan dan pendapat anda, semoga bermanfaat...