Tragedi Suriah, Tanggung Jawab Siapa?
Di tengah perlawanan terhadap musuh2 Islam, narasi bahwa Iran adalah penyebab tragedi Suriah kembali diangkat. Tujuannya agar tidak ada umat Islam yang mendukung Iran. "Biarkan Iran berjuang sendiri, biar keduanya hancur sekalian", kata mereka.
Maka persoalan ini perlu kita bahas pelan2 dengan kepala dingin, bukan dengan emosi, pandangan sempit dan pikiran dangkal.
Konflik Suriah bermula tahun 2011. Rakyat turun ke jalan menuntut reformasi. Rezim Bashar al-Assad telah lama memerintah dengan tangan besi. Kezaliman dan korupsi di mana-mana. Rakyat sudah muak!
Masalah utama Suriah dan semua negara Arab, baik Sunni maupun Syiah, adalah kediktatoran, bukan mazhab teologis. Kita lihat betapa banyak tahanan politik di penjara2 Mesir dan Saudi. Sunni. Penjara tidak penuh oleh penjahat tapi penuh oleh pemuda pemudi terbaik bahkan para ulama. Banyak di antara mereka yang dijatuhi hukuman mati dan penjara seumur hidup hanya karena menunjukkan protes kepada pemerintah.
Sebagai pemerintahan diktator respon rezim Bashar al-Assad sangat keras. Penangkapan, represi, dan kekerasan terjadi di mana-mana. Hal ini memperbesar kemarahan publik. Di titik itulah api konflik menyala. Jelas sekali tidak ada urusan Iran di sini.
Awalnya, revolusi Suriah hanyalah gerakan rakyat yang damai sebagaimana terjadi di berbagai kawasan mengikut ombak Arab Spring. Lalu banyak pihak asing yang masuk. Konflik berubah menjadi perang terbuka berdarah. Kelompok seperti Jabhat al-Nusra, Islamic State, dan Hayat Tahrir al-Sham angkat senjata dengan menggunakan isu Sunni vs Syiah untuk mobilisasi.
Arab Saudi melihat ini peluang memukul negara proksi saingan mereka; Iran. Sunni vs Syiah digalakkan. Diundanglah kekuatan Barat untuk masuk. Israel juga menjalankan operasi sesuai kepentingannya. Rusia pun ikut campur untuk menghambat hegemoni Amerika di kawasan. Suriah berubah menjadi medan perang proksi.
Lalu di mana posisi Iran? Iran masuk setelah konflik membesar. Ia bukan penyebab awal. Iran datang bukan untuk membela kediktatoran al-Asad, tapi untuk melindungi sekutu dan proksinya.
Iran memandang Suriah sebagai sekutu strategis yang penting dalam struktur aliansi regionalnya, dan keberadaan rezim Assad memberikan jalur logistik ke kelompok lain seperti Hezbollah di Lebanon. Iran butuh dukungan negara2 dan milisi2 proksi untuk melawan hegemoni AS dan Saudi agar tidak berjuang sendiri.
Perlu diingat, darah yang tertumpah di tragedi Suriah bukan Sunni saja. Korban dari pihak Syiah juga sama banyaknya akibat perang ini. Isu sektarian Sunni-Syiah ini hanya alat AS dan Saudi untuk menyudutkan poros perjuangan Iran.
Maka yang bertanggung jawab penuh atas awal terjadinya tragedi Suriah adalah Bashar al-Asad. Dan benar dia Syiah. Tapi bukan pada Syiah-nya yang menjadi sumber masalah, melainkan kediktatoran yang sudah mendarah daging pada diri penguasa2 Arab. Keras kepada rakyat, lembut dan berkasih sayang kepada musuh.
Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih atas masukan dan pendapat anda, semoga bermanfaat...