Benarkah Syiah Dibuat oleh Abdullah bin Saba?

Ada sebuah teori yang sangat populer dalam polemik sejarah Islam: bahwa mazhab Syiah didirikan oleh seorang Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba. Teori ini sering diulang dalam ceramah, buku polemik, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Namun jika kita menelusuri sejarah dengan sedikit lebih teliti, teori ini ternyata sangat problematis—baik secara logika sejarah maupun secara sumber.

Pertama-tama, kita perlu memahami makna kata syi‘ah pada masa awal Islam. Dalam bahasa Arab, kata itu berarti “kelompok pendukung” atau “faksi”. Dalam literatur sejarah awal, istilah ini sering digunakan secara politik, bukan teologis. Ketika para penulis sejarah menyebut shi‘at Ali, yang dimaksud adalah para pendukung Ali ibn Abi Talib dalam konflik politik pada masa itu. Ia bukan mazhab aqidah seperti yang kita kenal sekarang.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw, umat Islam memang menghadapi persoalan besar: siapa yang akan memimpin komunitas yang baru saja berkembang menjadi kekuatan politik besar. Perdebatan tentang kepemimpinan ini adalah sesuatu yang sangat wajar dalam sejarah politik mana pun. Ia tidak serta-merta berkaitan dengan perbedaan aqidah.

Ketika Utsman bin Affan terbunuh dan krisis politik meluas, umat Islam terbelah dalam beberapa kubu politik. Ada yang mendukung Ali, ada yang mendukung Muawiyah ibn Abi Sufyan, dan ada pula kelompok lain dengan posisi yang berbeda. Namun jika kita membaca sumber-sumber sejarah tentang konflik tersebut—termasuk peristiwa seperti Perang Jamal, Perang Siffin, dan proses Tahkim Siffin—yang diperdebatkan para tokoh saat itu adalah persoalan politik: bagaimana menegakkan keadilan, siapa yang paling layak memimpin, dan bagaimana menjaga stabilitas umat. Tidak ada perdebatan tentang doktrin imamah seperti yang berkembang dalam teologi Syiah berabad-abad kemudian.

Di sinilah teori Abdullah bin Saba menjadi sulit dipertahankan.

Teori itu menyatakan bahwa seorang individu berhasil menyusup ke tengah masyarakat Islam dan menciptakan sebuah mazhab besar yang bertahan hingga lebih dari empat belas abad. Ia dikisahkan berpindah-pindah dari Madinah, Kufah, Basrah hingga Mesir, memprovokasi pemberontakan, dan mengubah arah sejarah umat Islam. Narasi ini tampak dramatis, tetapi ketika ditelusuri secara akademik, sebagian besar detail kisahnya berasal dari satu sumber utama: Sayf ibn Umar.

Masalahnya, tokoh ini sendiri dinilai lemah oleh banyak ulama ahli hadis klasik. Beberapa tokoh kritik perawi seperti Yahya ibn Ma'in dan Ahmad ibn Shu'ayb al-Nasa'i menyebutnya sebagai perawi yang tidak dapat dipercaya. Dalam metodologi ilmu hadis, kesaksian seorang perawi yang dipersoalkan kredibilitasnya tidak bisa dijadikan landasan kuat untuk membangun kesimpulan sejarah besar.

Artinya, teori bahwa Abdullah bin Saba adalah pendiri Syiah berdiri di atas fondasi sumber yang sangat rapuh.

Lebih dari itu, teori tersebut juga mengandung implikasi logis yang aneh. Jika benar seorang individu mampu “mensyiahkan” sejumlah sahabat dan memprovokasi konflik besar di tengah mereka, maka secara tidak langsung teori itu menggambarkan para sahabat sebagai orang yang mudah dimanipulasi. Padahal dalam tradisi teologi Sunni sendiri para sahabat dipandang sebagai generasi yang terpercaya, yang dikenal dengan konsep ‘Adalah al-Sahabah—bahwa mereka secara umum adalah orang-orang yang adil dan dapat dipercaya.

Di sinilah paradoksnya muncul: sebagian orang ingin membela para sahabat dengan teori Abdullah bin Saba, tetapi tanpa sadar justru menghadirkan gambaran yang merendahkan mereka.

Penjelasan yang jauh lebih masuk akal adalah melihat konflik awal Islam sebagai peristiwa politik yang kompleks. Setelah wafat Nabi, komunitas Muslim berubah dari sebuah masyarakat religius menjadi sebuah negara yang luas dengan wilayah, kekayaan, dan struktur kekuasaan yang besar. Dalam situasi seperti itu, perbedaan pandangan politik sangat mungkin terjadi, bahkan di antara orang-orang yang saleh sekalipun.

Sejarah dunia penuh dengan contoh serupa. Konflik politik tidak selalu lahir dari konspirasi tunggal, melainkan dari pertemuan banyak faktor: kepentingan wilayah, interpretasi keadilan, dinamika kekuasaan, dan perbedaan ijtihad.

Dari proses panjang itulah kemudian berbagai tradisi pemikiran berkembang. Apa yang pada awalnya hanya merupakan “faksi politik” lambat laun berubah menjadi tradisi teologis, hukum, dan intelektual yang kompleks. Perkembangan ini terjadi secara bertahap selama beberapa abad, bukan diciptakan oleh satu orang dalam satu momen sejarah.

Karena itu, menjelaskan kemunculan Syiah hanya dengan menyebut nama Abdullah bin Saba bukanlah penjelasan sejarah, melainkan penyederhanaan polemis.

Sejarah umat Islam jauh lebih rumit—dan jauh lebih manusiawi—daripada dongeng tentang seorang agen tunggal yang menggerakkan seluruh peristiwa. Justru dengan memahami kompleksitas itu, kita dapat melihat generasi awal Islam secara lebih jujur: mereka adalah generasi yang besar dalam iman dan pengorbanan, tetapi tetap manusia yang hidup dalam dinamika politik dan sosial yang nyata.

Memahami kenyataan ini tidak merendahkan mereka. Sebaliknya, ia mengajak kita membaca sejarah dengan kedewasaan intelektual—bukan dengan mitos yang terlalu sederhana untuk menjelaskan perjalanan panjang sebuah peradaban.

Komentar

Komentar via Facebook

Paling Sering Dikunjungi

GPS Ilahi Buat Kita yang Lagi Lost di Dunia Penuh Drama (Al-Baqarah Part 3)

Ngaca Lewat Al-Baqarah: Realita Hidup yang Kadang Nyesek, Tapi Nggak Bisa Dihindari (Al-Baqarah Part 1)

Tulisan Baru