Ridha Kepada Allah
Ridha Kepada Allah
Ramadan adalah kesempatan bagi kita untuk bertanya kepada diri, "Sudahkah hati kita ridha ketika berdiri di hadapan Allah?"
Ada orang yang beribadah dengan rasa dekat, dengan cinta yang hangat. Ia berdoa dengan keyakinan penuh, dan sering kali doanya dikabulkan dengan cepat, seakan-akan langit memang sedang terbuka khusus untuknya. Itu karunia. Itu indah. Namun ada derajat yang lebih agung yang jarang dibicarakan.
Derajat itu adalah ketika seseorang berdoa, lalu tidak melihat jawaban yang ia harapkan, tetapi hatinya tetap tenang. Tidak retak. Tidak menuntut. Tidak merasa dikhianati oleh takdir. Ia tidak menganggap dirinya layak “dibayar” atas puasanya, atas tilawahnya, atas sedekahnya. Ia sadar, ia hanya seorang hamba. Dan hamba tidak pernah menagih kepada Tuannya.
Inilah keridhaan itu. Kita tadabburi ini mumpung masih di bulan Ramadan.
Kita lapar bukan karena Allah butuh lapar kita. Kita bangun malam bukan karena Allah kurang pujian. Kesadaran ini membongkar ilusi halus dalam diri: perasaan bahwa kita punya posisi tawar di hadapan-Nya. Puasa memotong ilusi itu pelan-pelan. Saat perut kosong dan doa belum juga terjawab, di situlah penghambaan diuji.
Jika doa dikabulkan, kita belajar melihatnya sebagai karunia—bukan hak. Jika belum dikabulkan, kita belajar melihatnya sebagai pengaturan yang lebih luas dari apa yang mampu kita pahami. Mungkin ditunda. Mungkin diganti. Mungkin memang tidak baik bagi kita. Dunia ini terlalu kompleks untuk diukur dari satu sudut keinginan pribadi.
Ramadan melatih kita untuk berkata dalam hati: “Aku ridha atas cara-Mu mengaturku.” Itu kalimat yang sederhana, tapi berat. Ia menuntut kejujuran. Ia menuntut kerendahan hati yang nyata, bukan sekadar slogan spiritual.
Semakin dalam ubudiyah, semakin kecil rasa “aku pantas”. Yang tumbuh justru rasa “aku bergantung”. Ketika itu terjadi, ibadah berubah dari transaksi menjadi penghambaan. Doa berubah dari tuntutan menjadi pengakuan kebutuhan. Dan hati menjadi lebih lembut—kepada Tuhan, dan kepada manusia.
Barangkali inilah rahasia peningkatan ubudiyah di Ramadan: bukan sekadar memperbanyak amal, tetapi membersihkan niat dari rasa berhak. Bukan sekadar berharap surga, tetapi belajar mencintai kehendak-Nya. Bukan sekadar takut neraka, tetapi takut kehilangan adab di hadapan-Nya.
Di penghujung bulan nanti, yang paling beruntung bukan hanya mereka yang doanya terkabul, tetapi mereka yang hatinya menjadi lebih ridha. Karena pada akhirnya, inti penghambaan bukanlah mendapatkan apa yang kita minta—melainkan menjadi hamba yang rela atas apa pun yang Dia tetapkan.
Dan ketika kerelaan itu tumbuh, ibadah tidak lagi terasa sebagai beban musiman. Ia menjadi cara hidup. Sebuah sikap batin yang terus menyala, bahkan setelah Ramadan berlalu.
Komentar
Posting Komentar
Terima Kasih atas masukan dan pendapat anda, semoga bermanfaat...